SELAMAT MEMBACA

Kamis, Maret 22, 2012

Konsep Mutu

Dr. W. Edward Deming diakui sebagai “Bapak Mutu”. Definisi mutu yang praktis adalah sebuah derajat variasi yang terduga standar yang digunakan dan memiliki kebergantungan pada biaya yang rendah. Inti metodologis pendekatan manajemen mutu Deming adalah menggunakan teknik statistik sederhana pada output program perbaikan yang berkelanjutan. Hanya melalui verifikasi statistik manajer dapat mengetahui bahwa dia menghadapi masalah dan mencari akar permasalahannya.
Beberapa prinsip pokok dari Deming yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan adalah:
§  Anggota dewan sekolah dan administrator harus menetapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai.
§  Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa, bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi.
§  Asal diterapkan secara ketat, penggunaan metode control statistik dapat membantu memperbaiki outcomes siswa dan administratif.
Dr. Josep M. Juran juga diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu”. Dr. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Seperti halnya Deming, Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran menyebut mutu sebagai “tepat untuk pakai” dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah “mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat”. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa “tepat untuk dipakai” lebih tepat ditentukan oleh pemakai, bukan oleh pemberi.
Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. Dengan perangkat yang tepat, para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsistem sesuai dengan harapan konsumer. Beberapa pandangan Juran tentang mutu adalah:
·         Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir.
·         Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan, bukan program sekali jalan.
·         Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator.
·         Pelatihan massal merupakan prasyarat mutu.
·         Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.
Sesuatu yang dianggap berkualitas/bermutu apabila memenuhi delapan dimensi mutu berikut ini:
1.      Performa: seberapa cocok produk itu digunakan sesuai dengan fungsi pemenuhan kebutuhannya
2.      Features: konten dari produk yang membedakannya dari produk lain.
3.      Reliabilitas: seberapa lama produk itu dapat bertahan dari kerusakan.
4.      Conformance: sejauh mana produk dapat dikembangkan oleh konsumen itu sendiri.
5.      Durabilitas: seberapa lama produk dapat digunakan sampai benar benar tidak dapat dipakai lagi.
6.      Serviceability, speed, cost, ease to repair: ada tidaknya servis center dan seberapa banyak biaya yang dikeluarkan konsumen untuk itu.
7.      Esthetic: nilai keindahan dari produk, termasuk dalam definisi ini adalah tampilan fisik produk.
8.      Percieved quality: kesan yang membekas dari produk pada pemikiran konsumen.

 
 
REFERENSI
Jerome S. Arcaro. 2007. Pendidikan Berbasis Mutu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. IV,
Jurnal: Ketut Suardhika Natha. 2008. Total Quality Management sebagai Perangkat Manajemen Baru Untuk Optimisasi.

Tidak ada komentar: