SELAMAT MEMBACA

Selasa, Maret 20, 2012

Makalah Psikologi Perkembangan I

A.Perkembangan fisik.
Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, sampai 2 tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual barulah pertumbuhannya kembali berkembang pesat. Masa ini juga sering disebut dengan ”periode tenang”, namun pada masa ini jug terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti. Pertumbuhan fisik yang berarti disini adalah perkembangan berat dan tinggi badan beserta perkembangan motorik. Berikut akan coba diuraikan secara rinci.
  1. Perkembangan berat dan tinggi badan
postur tubuh anak bagian atas pada usia 6 tahun berkembang lebih lambat dari pada bagian bawahnya. Rata-rata tinggi anak pada usia ini adalah 46 inci dengan berat 22,5kg. Setelah itu tinggi akan bertambah 5-7,6cm sehingga pada usia 11-12 tahun , tinggi rata-rata anak perempuan 147 cm dan rata-rata tinggi anak laki-laki 146cm. Pada masa ini berat badan anak-anak bertambah rata-rata 2,3-3,2 kg pertahunnya. Berta mneigkat karena
bertambahnya ukuran sisitem sistem rangka dan otot serta beberapa ukuran tubuh lainnya. Jumlah sel-sel otot mempengaruhi kekuatan pada anak laki-laki, jadi cenderung anak laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan dikarenakan jumlah sel yang membedakan. Namun pertumbuhan fisik selama masa ini selain dapat memebrikan kemampuan pada nak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas baru juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kesulitan-kesulitan secara fisik dan psikologi.

  1. Perkembangan Motorik
Pada masa ini perkembangan motorik anak lebih halus dan lebih terkoordiansi dikarenakan oleh pertambahan berta dan kekuatan badan. Ketika mereka memasuki tahun-thun sekolah dasar anak-anak memperoleh kendali yang lebih besar atas tubuh mereka, sehingga mereka dapat berdiri dan duduk lebih lama . pada masa ini anak-anak menjadi lebih jenuh karena duduk terlalu lama daripada berlari,melompat, atau bersepeda. Tindakan fisik seperti ini sangat penting bagi anak guna untuk memperhalus ketrampilan-ketrampilan mereka yang sednag berkembang.
Meningkatnya mielin (suatu selunbung saraf-saraf yang menolong impuls saraf bergerak lebih cepat) disitem saraf merupakan pusat tercermin dalam perbaikan ketrampilan-ketrampilan motor kasar selama masa pertengahan dan akhir anak-anak.anak-anak yang berusia 6tahun dapat memukul,mengikat tali sepatu dan mengancingkan baju, pada usia 7 tahun tangan anak –anak menjadi lebih kuat, dan merka lebih menyukai pensil daripada krayon.koordinasi motrik halus berkembang disaat anak-anak mulai menulis rangakain kata, kalimat, serta paragraf. Dan mereka mulai melakukan gerakan yang cepat dan rumit juga melakukan ketrampilan yang lain, reperti menyanyikan sebuah lagu, memainkan alat musik. Dan sebagainya.
Partisipasi dibidang olahraga dapat memberikan dampak positif dan negatif pada anak-anak, dampak positifnya yaitu mereka dapat berlatih dan berkesempatan untuk belajar bersaing, menigkatkan harga diri dan memperluas pergaulan disi lain mereka akan mendapat tekanan untuk berprestasi.walaupun dilkatakan anak-anak pada masa ini masih muda hal ini tidak menutup kemungkinan seorang anak mengalami stress.
B.Perkembangan kognitif .
Pada awalnya anak-anak masih bersifat imajinatif dan egosentris namun pada usia ini anak-anak mulai berkembang kearah berfikir konkrit, rasional dan objektif, daya ingatnya menjadi kuat dan benar-benar dalam keadaan yang siap untuk belajar.
a.Teori Piaget.
Pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut dengan pemikiran operasional konkrit yang menurut piaget sendiri operasi adalah hubunga-hubungan logis diantara konsep-konsep ataupun skema-skema, operasi konkrit itu sendiri adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek dan peristiwa-peristiwa nyata yang dapat diukur.pada masa ini anak-anak sudah memakai logis. Pada mas ini juga nak-anak sudah memahami konservasi( yaitu kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak).
Pada masa ini anak telah mengambangkan tiga macam proses yang disebut,1.negasi/negation, melihat keadaaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada permulaan keadaaannya sama dan pada akhirnya tidak sama,2.resiprokasi, hubungan timbal balik dimana nak mengetahu bahwa benda-benda bertambah panjang akan tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dnegan deretan yang lain,3.idenditas, mengenal satu persatu benda yang ada.
Dalam berfikir konkrit keterbatsan yang dimilki oleh anak antara lain ialah egosentrisme, yang artinya anak belum mampu membedakan antara perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung dialami dengan perbuatan-perbauatn dan objek-objek yang hany aada dalam fikirannya.

b.Perkembangan Memori
setiap manusia mempunyai dua memeori yaitu: Long-Term-Memory
(memori jangka panjang) dan Short-Term-Memory(memory jangka pendek). Memori jangka pendek mengalami perkembanagn yang sanagt pesat pada masa awal ank-anak, stelah usia 7tahun tidak banyak memperlihatkan banyak perkembangan. Memori jangka panjang bertambah seiring dengan pertambanhan usia pada masa anak-anak tengah dan akhir, dua aspek yang terkait dengan Long-Term-Memori yaitu control processes yang merupakan proses-proses kognitif yang tidak terjadi secara otomatis,tetapi memerlukan usaha dan upaya, disini terdapat tiga proses kontrol yaitu : rehearsal(pengulangan),organisasi,dan perbandingan(imagery). Aspek yang lain yaitu karakteristik anak itu sendiri. Startegi-strategi yang dapat mempengaruhi memori anak yaitu,rehearsal,organisasi,imagery dan retreval yaitu: rehearsal selain merupakan control processes ia juga merupakan salah satu strategi memori yang berarti dengan cara mengulangi beberapa kali informasi yang disajikan. Organisasi merupakan cara pengelompokkan dan pengkatagorian. Imagery perbandingan mrupakan karakteristika pembayangan dari seseorang.Retrieval (pemunculan kembali) proses mengelurakan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan memori. Selain itu yang dapat mempengaruhi memori anak adalah,tingkat usia,sifat anak-anak(motivasi dan kesehatan) pengetahuan yang telah diperoleh anak sebelumnya.

c.Perkembangan pemikiran kritis
Pemikiran kritis(critical thinking), yaitu memahami makna masalah secara lebih mendalam , mempertahanka agar pikiran tetap terbuka terhadap segala pendekatan dan pandangan yang berbeda, dan berfikir secara reflektif dan bukan hanya menerima pernyataan-pernyataan dan melaksanakan prosedur-prosedur tanpa pemahaman dan evaluasi yang signifikan. Galloti berpendapat bahwa pemikiran kritis adalah suatu aspek yang penting dalam penalaran sehari hari.
Robert J Stenberg 1987 , mengatakan kita harus mengajari anak cara berfikir yang benar, mengembangkan strategi-strategi pemecahan masalah, meningkatkan gambaran mental mereka, memperluas landasan pengetahuan mereka, dan memotivasi mereka menggunakan ketrampilan-ketrampilan berpikir yang baru saja dipelajari. Untuk berfikir kritis seorang anak harus mengmbangkan proses berfikir seperti dibawah ini yaitu:
  • Mendengar secara seksama
  • Mengidentifikasikan atau merumuskan pertanyaan-pertanyaan.
  • Mengorganisasi pemikiran-pemikiran mereka.
  • Memperhatikan persamaan dan perbedaan.
  • Melakukan deduksi ( penalaran dari umum ke spesifik)
  • Membedakan anatara kesimpulan-kesimpulan yang secara logika valid tidak valid.
Untuk proses berfikir kritis seorang anak akan lebih efektif bila dikemabngkan dalm bidang yang spesifik (domain spesifik) daripada bidang yang umum (domain general).
d.Perkembangan Intelegensi ( IQ )
intelegnsi secara kriteria berarti kemampuan verbal,ketrampilan- ketrampilan pemecahan masalah, dan kemampuan unutk belajar dari dan menyesuaikan diri dengan pengalamn-pengalaman hidup sehari-hari, komponen IQ sendiri sangat dekat denagan pemrosesan informasi dan bahasa.
Binet sendiri mengembang konsep usia mental (Mental Age) untuk menangani masalah inteligensi ini sendiri sautu level perkembangan mental individual dibandingkan dengan orang lain. Istilah inteligence Quotient ( IQ ) dikembangkan oleh William Stern yang baginya cara mencari IQ adalah usia mental anak-anak dibagi usia kronologis dikali 100.





Binnet telah merancang sebuah tes integensi berdasarkan konsep usia mental. Sedangkan William Stern sendiri menyempurnakan tes IQ Binet dengan rumus:



Keterangan : IQ= intelegence quotient
MA= Mental Age
CA= Cronologis Age

Klasifikasi IQ
IQ
Klasifikasi
Tingkat sekolah
Di atas 139
120-130


110-119


90-109

80-89

70-79

Dibawah 70
Sangat superior
Superior


Diatas rata-rata


Rata-rata

Dibawah rata-rata

Borderline

Terbelakang secara mental
Orang yang sangat pandai
Dapat menyelesaikan study di Universitas tanpa banyak kesulitan
Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan tanpa kesulitan
Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan
Dapat menyelesaikan sekolah dasar
Dapat mempelajari sesuatu tapi lambat
Tidak bisa mengikuti pendidikan disekolah

Para psikolog dalam menentukan sifat dasar IQ terbagi menjadi dua kubu, kubu pertama mengatakan bahwa IQ sebagai suatu kemampuan yang merupakan suatu kesatuan, sedangkan kubu yang kedua mengatakan bahwa IQ ditentukan oleh banyak kemampuan yang berpisah. Charles Spearman adalah orang yang melakukan pendekatan analisis faktor intelegensi umum yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Thurstone yang menekankan aspek yang terbagi-bagi dalam IQ
Kemampuan mental Primer Turstone.
Intelegensi
Kemampuan
Verbal komperehension
Word fluency


Number

Space



Memori
Perceptual speed


Reasoning

Kemampuan memahami makna kata
Kemampuan memikirkan kata secara tepat, seperti penukaran huruf dalam kata, sehingga kata itu mempunyai pengertian lain, atau memikirkan kata-kata yan g bersajak.
Kemampuan bekerja dengan angka dan melakukan perhitungan
Kemampuan menvisualisasi hubungan bntuk ruang, seperti mengenali gambr yang sama yang disajikan denagn sudut pandang yang berbeda.
Kemampuan mengingat stimulus verbal
Kemampuan mengingat stimulus verbal
Kemampuan menangkap rincian visual secara cepat serta melihat persamaan dan perbedaan diantar objek yang tergambar.
Kemampuan menemukan aturan umum berdasarkan contoh yang disajikan, seperti menentukan bentuk keseluruhan rangkaian setelah disajikan sebagai rangkaian tersebut.


Psikolog Howard juga mendukung bahwa kita tidak memiliki satu IQ tetapi multiple IQ. Teori kontemporer yang membahas IQ berasal dari Stenberg yang membagi IQ menjadi tiga bagian yaitu: 1)Integensi Komponensial yaitu IQ yang berkaitan dengan komponen berfikir, yang menyerupai unsur-unsur dasar dari model pemrosesan informasi.2) integensi eksperiensial yaitu IQ yang difokuskan bagaimana pengalaman sesorang mempengaruhi intelegensi itu sendiri, dan juga pengalaman pada pemecahan masalah.3) Intelegensi kontekstual difokuskan pada pertimbangan menghadapi tuntutan lingkungannnya sehari-hari, bagaimana ia bergaul dengan orang lain. Beberapa teori kontemporer tentang Intelegensi iti sendiri berfokus pada intelegensi praktis-intelegensi yang berkaitan denagn semua kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari.
e.Perkembangan kecerdasan emosional ( EQ)
istilah kecerdasan emosional dipopulerkan oleh Goleman berdasarkan penelitiannya tentang neurolog dan penelitian para psikolog menyimpulkan bahwa EQ sama pentingnya dengan IQ. Dengan berkembangnya teknologi pencitraan otak (brain-imaging) sebuah teknologi yang kini membantu para ilmuwan dalam memetakan hati manusia semakin memperkuat keyakinan bahwa otak memiliki bagian rasional dan emosional yang saling bergatung.
Kecerdasan emosinal merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik (academic intelligence) yaitu kognitif murni yang diukur dengan IQ. Banyak orang yang cerdas, dalam arti terpelajar, tetapi mempunyai kecerdasan emosi, sehingga dalam bekerja menjadi bawahan orang ber-IQ lebih rendah tetapi unggul dalam keterampilan kecerdasan emosi.
Daniel Goleman mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas lima komponen penting, yaitu: (1) mengenali emosi, (2) mengelola emosi, (3) motivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina hubungan.
Mengenali emosi diri, kesadaran diri (knowing one’s emotion self-awareness), yaitu mengetahui apa yang dirasakan seseorang pada suatu saat dan mengunkanannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
Mengelola emosi (managing emotion), yaitu menangani emosi sendiri agar berdampak positif bagi pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya satu tujuan, serta mampu menetralisir tekanan emosi.
Motivasi diri (motivating oneself), yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun manusia menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sanget efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Kunci motivasi adalah memanfaatkan emosi, sehingga dapat mendukung kesuksesan hidup seseorang.
Mengenali emosi orang lain (recognizing emotion in other) empati, yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang banyak atau masyarakat. Hal ini berarti orang yang memiliki kecerdasan emosional ditandai dengan kemampuannya untuk memahami perasaan atau emosi orang lain.
Membina hubungan (handling relationships), yaitu kemapuan mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan antar manusia.
Sejumlah penelitian terbaru mngenai otak manusia semakin memperkuat kayakinan bahwa emosi mempunyai pengaruh yang besar dalam menentukan keberhasilan belajar anak.
f. Perkembangan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual (SQ) merupakan temuan muktakhir secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi. IQ dan EQ, terpisah atau bersama-sama, tidak cukup menjelaskan keseluruhan kompleksitas kecerdasan manusia dan juga kekayaan jiwa serta imainasinya. Hal ini terlihat dari beberapa ungkapan Zohar dan Marshall sendiri, di antaranya:
  • SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai.
  • SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup menusia dalam konteks makna yang lebih luas dan raya.
  • SQ adalah kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain
  • SQ adalah kecerdasan yang tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Oleh karena itu, untuk melahirkan manusia yang ber-SQ tinggi, dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya memperhatikan pengembangan aspek IQ saja melainkan sekaligus EQ dan SQ. Dengan demikian diharapkan akan lahirlah dari lembaga-lembaga pendidikan manusia yang benar-benar utuh.

g. Perkembangan Kreativitas
Kreativitas ialah kemampuan untuk memikirkan sesuatu dengan cara-cara yang baru dan tidak biasa dan melahirkan suatu solusi yang unik terhadap masalah-masalah. Walaupun kebanyakan orang yang kreatif cukup inteligen, namun yang sebaliknya belum tentu benar. Banyak orang yang sangat inteligen (diukur berdasarkan tes-tes IQ) tidak kreatif. Kemampuan berfikir konvergen atau penalaran logis menunjukk`n pada pemikiran yang menghasilkan satu jawaban dan mencirikan jenis pemikiran berdasarkan tes intelegensi standar. Sedangkan kemampuan berfikir divergen merujuk pada pemikiran yang menghasilkan banyak jawaban atas pertanyaan yang sama dan lebih merupakan indikator dari kreativitas. Berpikir divergen merupakan aktivitas mental yang asli murni dan baru, yang berbeda dari pola pikir sehari-hari dan menghasilkan lebih dari satu pemecahan masalah.
Utami Munandar memalui penelitiannya di Indonesia, menyebutkan ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan oleh bangsa Indonesia, yaitu:
  1. Mempunyai daya imajinasi yang kuat
  2. Mempunyai inisiatif
  3. Mempunyai minat yang luas
  4. Bersifat ingin tahu
  5. Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru
  6. Mempunyai kebebasan dalam berfikir
  7. Mempunyai kepercayaan diri yang kuat
  8. Penuh semangat
  9. Berani mengambul resiko
  10. Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakinan

Pengembangan ciri-ciri kepribadian kreatif demikian sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungn keluarga dan sekolah. Para kebanyakan pakar bersepakat, bahwa konsep kreativitas menggelembung secara spontan hanyalah mitos belaka. Sekelebat ide yang tiba-tiba dan disusul oleh bayang-bayang membuat hanya sebagian kecil proses kreatif. Di jantung proses kreatif adalah kemampuan dan pengalaman yang membentuk upaya individu yang bermisi*dan berkesinambung, yang tak kenal henti dan sepanjang hayat.


  1. Perkembangan Bahasa
Selama masa akhir anak-anak, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara anak-anak mengunakan kata dan kalimat bertambah kompleks serta lebih menyerupai bahasa orang dewasa. Membaca sangat berperan dalam dunia bahasa mereka. Pertimbangan bilingualisme (kedwibahasaan) menjadi semakin penting. Kita akan mempertimbangkan masing-masing aspek perkembangan bahasa anak-anak ini nanti.
Di samping peningkatan dalam jumlah perbendaharaan kosa kata, perkembangan bahasa anak usia sekolah juga terlihat dalam cara anak berpikir tentang kata-kata. Pada masa ini anak menjadi kurang terikat dengan tindakan-tindakan dan dimensi-dimensi percertual yang berkaitan dengan kata-kata
Peningkatann kemampuan anak sekolah dasar dalam menganalisis kata-kata, menolong mereka memahami kata-kata yang tidak berkaitan langsung dengan pengalaman-pengalaman pribadinya. Ini memungkinknan anak menambah kosa kata yang lebih abstrak ke dalam perbendaharaan mereka.
Bilingual Education mengacu pada program bagi murid-murid yang kemampuan berbahasa inggrisnya terbatas, yang mengajar murid-murid di kelas dalam bahasa mereka sendiri separuh waktu, sementara mereka belajar bahasa ingris.



Referensi

Desmita.2009.Psikologi Perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
Santrock , John W.1995.Life-Span Development. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar: