SELAMAT MEMBACA

Selasa, September 11, 2012

GAYA HIDUP MAHASISWA YANG AKTIVIS DAN NON-AKTIVIS


Setiap harinya kita melihat ada banyak hal yang berubah disekeliling kita. Wajah-wajah baru mulai hadir, setiap akhir tahun ajaran gerbong orang-orang muda berdatangan dari berbagai penjuru dengan segala latar belakang, mereka membanjiri Universitas di seluruh indonesia sebagai salah satu pilihan favorit bagi mereka yang berminat jadi mahaiswa. Pendidikan mendapat perhatian penting bagi masyarakat, dampak positifnya memunculkan sekolah-sekolah tinggi dan perguruan tinggi yang tersebar dengan beragam jurusan.
Mencari ilmu! Itulah jawaban klise yang sering menghiasi bibir mahasiswa baru ketika ditanya apa tujuan kamu kuliah. Malah ada yang dengan pongah menjawab “ingin jadi orang yang berguna bagi nusa-bangsa dan agama” ini tentu semakin membingungkan. Apakah benar demikian? Sudah yakinkah kita dengan apa yang ingin kita tuju sebelum menentukan langkah kedepan? Pertanyaan yang kelihatan tidak popular dikalangan orang muda ini, ternyata membutuhkan jawaban konkrit yang memberi arah pasti.
Sisi lain potret mahasiswa dari waktu ke waktu semakin memprihatinkan, semakin sedikit mahasiswa yang menekuni budaya ilmiah, jarang yang konsisten dengan apa yang diucapkan diawal masuk kuliah. Banyak yang menghabiskan masa 5 sampai 7 tahun tersebut, justru dalam kesia-siaan, hura-hura yang jauh dari aktivitas akademik apalagi menggeluti aktivitas sebagai agen of change bagi problematika yang dihadapi oleh masyarakat. Waktu terbuang dengan percuma tanpa membaca, tanpa diskusi, berita-berita dan peristiwa hanya angin lalu. Kita lebih senang jadi penonton film dan sinetron, lebih suka beli majalah mode, camping, sms-an, peutimang gaya, cuma jadi pendengar pasif di kampus, berharap nilai bagus tapi malas kuliah, persaingan gaya hidup serta apatis dengan lingkungan sekitar.
Kalaupun ada mahasiswa baru yang berorganisasi baik yang aktif di intra kampus seperti BEM, BEM-F, MPM, DPMF, HMJ hingga UKM dan yang memilih aktif di ekstra kampus seperti IMM, KAMMI, HMI, SMUR, PMII, GMNI paguyuban mahasiswa kabupaten dan kecamatan dll, justru tidak berkembang dengan baik, karena doktrinisasi atau kubu-kubu warisan kakak tingkat sehingga terbentuknya generasi rapuh yang kental dengan sikap subyektifisme. Melengkapi kenyataan tersebut, ketika tidak adanya ruang debat ilmiah atau forum-forum diskusi yang dibuat oleh masing-masing kelompok secara fair menjaring minat, menjadi instrumen penting bagi mahaiswa baru agar obyektif menentukan pilihan sesuai minat, sebelum memutuskan bergabung aktif dalam sebuah organisasi yang disukai.
Setiap zaman memiliki anak-anak sejarahnya, setiap masa mempunyai keistimewaan tersendiri yang berbeda dari situasi sebelumnya. Mahasiswa juga demikian, tiap angkatan memiliki keistimewaan tersendiri sesuai keadaan dan waktu yang sedang melaju. Seorang mahasiswa baru tidak perlu terbebani oleh masa lalu yang terjadi. Masalah-masalah real yang terjadi saat sekaranglah yang jadi pijakan kita dalam berfikir dan berkiprah (primer). Hubungan dengan historis tetap penting (sekunder) sebagai rangkaian pelajaran yang tidak dapat diabaikan, karena gerak peristiwa yang lalu mungkin saja berulang kembali dalam kualitas yang berbeda dan pelaku yang berbeda pula.
Setiap mahasiswa juga punya gaya hidup sendiri-sendiri. Gaya hidup mahasiswa yang aktivis cenderung menghabiskan waktunya untuk mengikuti organisasi di universitas seperti BEM atau unit kegiatan mahasiswa yang lainnya. Lain hal dengan mahasiswa yang non aktivis. Mereka lebih suka bersenang dan menghabiskan waktunya untuk berhura-hura, tetapi ada juga sebagian mahasiswa non aktivis menjawab kenapa mereka tidak suka atau tidak ikut organisasi?? Karena mereka ingin fokus terhadap kuliahnya. Mereka tidak ingin kuliahnya terbengkalai gara-gara ikut organisasi. Terkadang mereka pergi ke kampus, mengerjakan dan mengumpulkan tugas, kembali ke tempat kost mereka atau pergi ke warnet hanya mengerjakan tugas kuliahnya.

Tidak ada komentar: