WELCOME AND HAPPY READING

Tuesday, March 20, 2012

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA

  • Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa, yang ditandai dgn berbagai perubahan pada diri remaja, baik fisik maupun psikis. Selain perubahan tersebut, terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap ortu & anggota keluarga lain, guru, teman, maupun masyarakat pada umumnya.

  • Konteks dari remaja
Perubahan yang terjadi pada remaja bersifat universal, namun akibatnya pada masing-masing individu bersifat personal. Hal ini terjadi karena
dampak psikologis dari perubahan yang terjadi pada diri remaja dibentuk oleh lingkungan. Artinya perkembangan psikologis selama masa remaja merupakan hasil dari perubahan2 mendasar & universal dengan konteks dimana pengalaman terjadi. Shg merupakan hal yang tidak mungkin untuk menggeneralisasikan tabiat/ perilaku remaja tanpa mempertimbangkan lingkungan sekitar tempat remaja tsb tumbuh

  • Secara umum masa remaja dibagi dalam 3 tahap, yakni :
    1. Masa remaja awal . (12-15 th) .
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak & berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik & tidak tergantung pada ortu. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk & kondisi fisik serta adanya konformitas yg kuat dgn teman sebaya
    1. Remaja pertengahan. (15 – 18 th)
Masa ini ditandai dgn berkembangnya kemampuan berpikir yg baru. Teman sebaya memiliki peran penting, namun lebih mampu mengarahkan diri sendiri. Mulai mengembangkan kematangan perilaku, belajar mengendalikan impulsifitas, membuat keputusan awal berkaitan dgn tujuan vokasional yg ingin dicapai. Penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu
    1. Remaja akhir. (19-22)
Masa ini ditandai dgn persiapan akhir memasuki peran-peran orang dewasa. Berusaha memantapkan tujuan vokasional & mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yg kuat untuk menjadi matang & diterima dalam kelompok teman sebaya & orang dewasa.

  •  PERKEMBANGAN IDENTITAS

    1. Identitas diri berkaitan dengan pertanyaa-pertanyaan : siapakah diri saya, apa yang membuat diri saya berbeda dari orang lain, apa saja yang ada dalam diri saya, apakah yang saya inginkan pada masa mendatang, dll. Seseorang yang telah memperoleh identitas, maka akan menyadari ciri-ciri kepribadiannya, seperti kesukaannya atau ketidaksukaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya. 
    2.  Menurut Josselson proses pencarian identitas remaja adalah proses dimana remaja mengembangkan identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain yang disebut dengan Individuasi 
    3. Menurut Erikson konflik psikososial yang harus diselesaikan remaja adalah pencapaian identitas Vs Kebingungan identitas.  
    4. Pendapat kontemporer : Pembentukan Identitas adalah proses yang panjang dalam hidup, berjalan secara gradual & perlahan lahan mengandung penolakan dan penguatan terhadap peran/identitas dan perwujudannya. 
    5. Aspek-aspek penting dalam pembentukan identitas diri remaja :
      • Remaja harus membentuk kepercayaan diri terhadap dukungan orang tua 
      • mengembangkan pemikiran, terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang kompeten, dan motivasi yang kuat , serta komitmen yang tinggi untuk menghasilkan sesuatu 
      • memperoleh perspektif mengenai masa depan yang merefleksikan karakteristik diri mereka sendiri
    • Pengaruh keluarga dalam pembentukan identitas remaja
      1. Orang tua yang demokratis akan mendorong remaja berpartisipasi dalam membuat sebuah keputusan, memberikan arahan yang bijak , yang akan membuat remaja lebih cepat mencapai identity achievement.
      2. Orang tua yang otoriter dimana seringkali mengontrol remaja tanpa memberi kesempatan untuk mengekspresikan pendapat, mendorong terjadinya identity foreclosure pada remaja
      3. Orang tua yang permisif, yang memberikan sedikit pengarahan dan membiarkan remaja membuat keputusannya sendiri mendorong terjadinya identity diffusion
    •  PERKEMBANGAN HUBUNGAN REMAJA ORANG TUA

      Pada masa remaja konflik dengan orang tua mengalami peningkatan dibandingkan masa anak-anak. Hal ini di sebabkan karena factor-faktor berikut :
      1. Perubahan fisik remaja/pubertas. Pubertas menyertakan berbagai perubahan-perubahan biologis maupun psikologis yang rawan menimbulkan konflik antar orang tua & remaja, misalnya ketika remaja berusaha mengekspresikan hasrat-hasrat seksualnya.
      2. Perubahan kognitif yang meliputi idealisme dan penalaran logis.
      3. Perubahan social yang berfokus pada tuntutan kemandirian dan pencarian identitas remaja.
      4. Perubahan kebijaksanaan orang tua. Kebijaksaan orang tua dalam menghadapi konflik dengan remaja yang diakibatkan oleh 3 point di atas, terkadang mengalami penurunan, akibat perubahan-perubahan internal maupun eksternal yang terjadi pada orang tua sendiri. Orangtua remaja biasanya berada pada usia paruh baya/ dewasa tengah yang mengalami berbagai perubahan-perubahan bersifat regresif, mulai dari penurunan fisik, kognitif, seksual dan mungkin saja mengalami pensiun, yang membutuhkan penyesuaian dari orang tua itu sendiri, dan mereka selakin terbebani dengan permasalahan anak mereka yang menginjak usia remaja. .

    • Konflik remaja dengan orang tua dapat berperan sebagai fungsi perkembangan yang positif bagi remaja, karena perselisihan dan perundingan yang terjadi akan mempermudah remaja dalam melewati masa transisi dari individu yang tergantung menjadi individu yang otonom (pengungkapan ketidaksetujuan remaja merupakan proses penjajakan perkembangan identitas yang lebih aktif daripada remaja yang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya (hasil penelitian) .
    • Konflik orang tua dengan anak mencapai puncak pada masa remaja, namun secara umum tidak semenggemparkan seperti yang diprediksi oleh Stanley Hall. Konflik orang tua remaja biasanya lebih terfokus pada persoalan-poersoalan kehidupan sehari-hari,misalnya merapikan kamar, berpakaian yang rapid an sopan, kembali kerumah pada jam-jam tertentu, tidak berlama-lama menelpon, dll

    • Attachment yang positif dengan orang tua merupakan factor protektif remaja yang berperan sebagai fungsi adaptif , yang menyediakan landasan yang kokoh bagi remaja untuk mengeksplorasi dan menguasai lingkungan baru dalam dunia social yang lebih luas dengan cara-cara yang sehat .

    No comments:

    Post a Comment